Langsung ke konten utama

5 Cara Pengendalian Hama Tikus Pada Kelapa Sawit

Seiring berjalannya waktu, perkebunan kelapa sawit di Indonesia semakin meluas. Saat ini tercatat luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak kurang dari 8,9 juta hektar dan mampu menjadi pemasok utama kebutuhan minyak sawit dunia yang mencapai 30 juta ton. Oleh karena itu, teknik pembudidayaan kelapa sawit yang benar terus dikembangkan guna meningkatkan hasil panen oleh para petani lokal.

Satu dari sekian kendala yang mendera perkebunan kelapa sawit adalah serangan hama. Di antara hama yang biasa menyerang pohon sawit, tikus acapkali menimbulkan dampak negatif yang begitu besar. Tikus sering menyerang bibit kelapa sawit, tanaman belum menghasilkan, tanaman menghasilkan, memakan serangga penyerbuk bunga sawit, dan menyebabkan masuknya padogen sekunder melalui bekas luka.

Pada umumnya, jenis tikus yang menyerang kelapa sawit di antaranya tikus rumah, tikus ladang, tikus wirok, tikus sawah, dan tikus pohon. Perlu diketahui, kemampuan tikus dalam memakan buah kelapa sawit bisa mencapai 6-14 gram/hari. Artinya dalam setahun para petani berisiko kehilangan 328-962 minyak sawit/hektar bilamana terdapat tikus dengan populasi 183-537 ekor/hektar.

Gejala serangan hama tikus ditandai dari adanya bagian tanaman yang berkarat, khususnya pada bagian pangkal batang. Serangan juga bisa terjadi pada bagian umbut yang mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak normal dan mati. Belum lagi kerusakan pada bagian pelepah menyebabkan tingkat produktifitas kelapa sawit menurut hingga 20 persen setiap tahun.

Tikus juga kerap merusak bunga kelapa sawit, baik bunga jantan maupun bunga betina. Akibatnya tanaman tidak bisa menghasilkan buah sehingga menyebabkan kerugian yang amat besar. Beberapa tikus juga dapat menyerang tandan sawit yang ditandai dari munculnya bercak semacam karatan.

cara-pengendalian-tikus.jpg

Ada beberapa langkah yang terbukti ampuh menanggulangi hama tikus di lahan kelapa sawit, antara lain :

1. Pengendalian Secara Kultur Teknis

Pada prinsipnya, pengendalian tikus secara kultur teknis dilakukan dengan membuat lingkungan yang dapat mencegah terjadinya kehidupan dan pertumbuhan tikus. Beberapa metode yang umum diterapkan yaitu mengatur pola tanam kelapa sawit, menjadwalkan waktu tanam, membuat jarak tanam, dan lain-lain. Meskipun metode ini tergolong sederhana dan ramah lingkungan, namun beberapa petani mengaku kesulitan menerapkannya pada kelapa sawit mengingat tanaman ini bukanlah tumbuhan semusim.

2. Pengendalian Secara Sanitasi

Metode sanitasi yaitu membersihkan sarang, lubang, dan tempat persembunyian tikus yang ada di area perkebunan kelapa sawit. Proses sanitasi terutama ditujukan pada tumpukan kayu sisa tebangan pohon tua dan gulma yang rimbun. Dalam pelaksanaannya, proses sanitasi kebun sawit pun tidak boleh mengganggu tanaman kacang-kacangan yang sengaja dipelihara.

3. Pengendalian Tikus Secara Mekanis

Pengendalian tikus secara mekanis bertujuan untuk menghilangkan populasi tikus dari perkebunan kelapa sawit dengan metode fisik. Peralatan yang digunakan meliputi perangkap, pelindung, dan penghalang tikus. Jika memungkinkan juga dapat dilakukan perburuan terhadap populasi tikus tersebut.

4. Pengendalian Tikus Secara Biologis

Secara biologis, populasi tikus bisa dikendalikan dengan meningkatkan jumlah populasi musuh alaminya. Di antaranya yaitu burung hantu, kucing, ular sawah, anjing, musang, dan garangan. Berdasarkan penelitian, burung hantu memegang peranan terpenting dalam membasmi tikus secara biologis. Sedangkan patogen yang juga berperan dalam membatasi populasi tikus misalnya protozoa Sarcosystis singaporensis, bakteri Trypanosoma evansi, dan nematoda Nippostrongilus brassiliensis.

5. Pengendalian Tikus Secara Kimiawi

Pengendalian tikus dapat dikerjakan pula secara kimiawi. Caranya yaitu dengan memasang umpan yang telah dibubuhi racun kimia dan menyebarkannya secara acak di seluruh wilayah perkebunan kelapa sawit. Metode-metode yang biasanya diaplikasika yakni menaruh umpan beracun (rodentisida), asap beracun (fumigan), atraktan dan repelen, serta bahan pemandul tikus (kemosterilan).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Barang Pribadi ke Korea Selatan: Regulasi, Waktu Pengiriman, dan Risiko yang Sering Terjadi

  Pengiriman barang pribadi dari Indonesia ke Korea Selatan terus meningkat seiring mobilitas masyarakat lintas negara. Di balik kebutuhan tersebut, terdapat regulasi ketat yang mengatur arus barang masuk ke Korea Selatan, termasuk untuk kiriman non-komersial. Barang pribadi kerap diartikan sebagai barang milik sendiri yang digunakan sehari-hari. Namun dalam praktik kepabeanan, definisi tersebut bergantung pada penilaian petugas terhadap jenis barang, jumlah, dan nilai ekonominya. Regulasi yang Mengatur Barang Pribadi Korea Selatan menerapkan sistem kepabeanan yang menempatkan seluruh barang masuk, termasuk kiriman pribadi, dalam skema impor. Setiap paket wajib dilengkapi informasi yang jelas mengenai isi dan tujuan pengiriman. Barang yang dianggap sensitif seperti makanan, produk kesehatan, kosmetik, dan barang bermerek berada di bawah pengawasan khusus. Untuk kategori tertentu, izin tambahan atau standar keamanan dapat menjadi syarat mutlak sebelum barang dilepas. Regulasi ini be...

Cara Membaca Perhitungan Volume dan Berat dalam Pengiriman Jepang–Indonesia

  Dalam pengiriman barang dari Jepang ke Indonesia, perhitungan volume dan berat menjadi dasar utama untuk menentukan skema pengiriman. Kedua unsur ini digunakan untuk menilai kebutuhan ruang di dalam kontainer serta memengaruhi alur penanganan barang selama proses logistik berlangsung. Berat mengacu pada bobot aktual barang setelah dikemas. Pengukuran ini dilakukan menggunakan timbangan dan dicatat dalam satuan kilogram. Berat aktual menjadi faktor penting karena berkaitan dengan batas maksimum muatan yang dapat ditampung oleh kontainer dan kapal. Volume menggambarkan besaran ruang yang ditempati barang. Perhitungan volume dilakukan dengan mengalikan panjang, lebar, dan tinggi barang, kemudian dikonversi ke satuan meter kubik. Dalam pengiriman Jepang–Indonesia, pengukuran volume dilakukan secara detail karena setiap selisih kecil dapat memengaruhi penataan muatan di dalam kontainer. Pada pengiriman barang dari Jepang ke Indonesia , volume sering menjadi acuan utama. Barang deng...

Tradisi Baru TKI dan Mahasiswa Jepang Saat Mengirim Paket

  Omiyage biasanya dikenal sebagai oleh-oleh kecil khas Jepang. Namun di kalangan TKI dan mahasiswa Indonesia di Jepang, muncul fenomena yang berbeda: omiyage yang ukurannya tidak kecil sama sekali. Bukan sekadar manisan atau gantungan kunci, tetapi barang-barang besar yang memenuhi satu kardus penuh. Fenomena ini muncul dari cara hidup yang berubah. Banyak yang tinggal jauh dari keluarga untuk waktu lama, sehingga hadiah kecil dianggap tidak cukup mewakili rasa rindu. Mereka memilih mengirim barang rumah tangga, pakaian musim dingin, peralatan elektronik mini, bahkan stok makanan instan Jepang. Omiyage tidak lagi hanya soal “cinderamata”, tetapi menjadi bahasa perhatian yang lebih luas. Tradisi baru ini mencerminkan pola pikir bahwa barang yang bermanfaat akan lebih dihargai. Seseorang mungkin mengemas satu set panci Jepang untuk ibunya, atau heater portabel untuk keluarga di kampung. Barang-barang itu membawa cerita tersendiri tentang bagaimana seseorang hidup di Jepang dan ing...