Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

5 Penyebab Produktivitas Kelapa Sawit Menurun

Sebagai petani kelapa sawit tentunya Anda mengharapkan tanaman-tanaman peliharaan Anda mampu menghasilkan jumlah produk TBS (Tandan Buah Segar) yang banyak. Prinsip utama Anda adalah meningkatkan jumlah produksi TBS sebanyak-banyaknya. Semakin banyak jumlah TBS yang Anda dapatkan, maka semakin besar pula keuntungan yang bakal diperoleh. Hasil panen TBS yang sedikit merupakan mimpi buruk bagi Anda dan para petani lainnya. Kunci utama keberhasilan dalam bercocok tanam tumbuhan kelapa sawit terletak pada proses perawatannya. Apabila Anda menginginkan hasil produksi yang banyak, Anda mutlak harus merawat tanaman kelapa sawit tersebut sebaik mungkin. Tahap perawatan ini memberikan andil yang sangat besar bagi tanaman, kesehatan, serta tingkat produktivitasnya. Pohon kelapa sawit harus mendapatkan perawatan yang benar. Jika Anda kurang cermat dalam merawat tanaman kelapa sawit, bukan tidak mungkin tingkat produktivitasnya akan menurun secara drastis. Berikut ini faktor-faktor yang m...

Cara Pengolahan Limbah Cair di Pabrik Kelapa Sawit

Pabrik-pabrik kelapa sawit di Indonesia pada umumnya menerapkan sistem berbasis kolam untuk mengolah limbah cair yang dihasilkannya. Ini merupakan metode sistem tradisional yang bertujuan untuk menekan tingkat BOD sehingga mencapai baku mutu yang sudah ditetapkan sebelum limbah cair tersebut dialirkan/dibuang ke sungai. Prinsipnya adalah air limbah yang diterima akan langsung didinginkan menggunakan kolam atau menara pendingin. Rata-rata setiap pabrik kelapa sawit memiliki 20-30 kolam pengolahan limbah. Awalnya limbah akan mengalir ke kolam anaerobik lalu dilanjutkan menuju ke kolam aerobik. Ada pula pabrik yang mengarahkan limbah dari kolam anaerobik langsung ke kolam facultative. Beberapa pabrik juga akan mengolah limbah di dalam kolam anaerobik terlebih dahulu sebelum dialirkan ke kolam aerobik. Dari sini limbah kemudian dibuang ke badan sungai. Limbah cair yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit sangat berbahaya karena tingkat BOD yang dimilikinya tinggi sekali mencapai 2...

Cara Merawat Kelapa Sawit Umur 3 Tahun

Perawatan kelapa sawit menjadi ujung tombak yang sangat menentukan kesuksesan kita dalam membudidayakan tanaman penghasil minyak nabati ini. Kita semua tentu menginginkan semua pohon kelapa sawit yang dimiliki mampu tumbuh dengan baik serta mempunyai tingkat produktivitas yang tinggi. Oleh sebab itu, upaya perawatan ini mutlak dilakukan sebaik-baiknya dan harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Sebab dari sinilah kelapa sawit akan tumbuh sesuai harapan Anda. Kelapa sawit kasarnya bisa bertahan hidup dan memiliki tingkat produktivitas yang baik selama minimal 25 tahun. Dari lamanya usia hidup tanaman kelapa sawit tersebut bisa dibagi ke dalam tiga fase kehidupan, antara lain : Fase Pembibitan Fase ini berlangsung selama minimal 9 bulan. Setelah 9 bulan terlewati, bibit kelapa sawit bisa ditanam di lahan. Namun tidak menutup kemungkinan fase ini bisa lebih dari 9 bulan tergantung varietas tanamannya. Fase Belum Menghasilkan Fase ini artinya tanaman kelapa sawit masih cukup...

Pupuk agar Buah Sawit Besar dan Berat

Kunci utama agar buah sawit besar dan berat terletak pada pemupukan. Pemupukan harus dilakukan secara tepat, baik tepat waktu, tepat dosis, tepat tempat, dan tepat penggunaannya. Pupuk berguna untuk mencukup kebutuhan tanaman untuk tumbuh, berkembang, dan berproduksi dengan menggantikan sejumlah unsur hara yang hilang akibat pencucian air atau dikonversikan menjadi TBS (Tandan Buah Segar). Selain itu, pupuk juga berguna untuk memperbaiki kondisi tanah demi mendukung tumbuh kembang kelapa sawit. Secara garis besar, pupuk untuk kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik mutlak dibutuhkan untuk meningkatkan jumlah unsur hara yang terkandung di dalam tanah sehingga mempengaruhi mutu panen termasuk kualitas buah, rendemen yang dihasilkan, dan daya simpannya. Penggunaan pupuk organik untuk kelapa sawit sebaiknya dalam bentuk yang memungkinkan proses aplikasinya menjadi lebih mudah dan efektif mengingat perkebunan sawit yang begit...

Inilah 5 Penyebab Penyakit Patah Pangkal Pelepah

Kelapa sawit adalah salah satu tanaman penghasil minyak nabati. Tingkat permintaannya yang tinggi membuat harga minyak kelapa sawit cukup mahal. Para petani pun berlomba-lomba membudidayakannya. Indonesia berhasil menjadi negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Kelapa sawit memang cukup mudah dipelihara di negara kita. Tetapi ada banyak sekali penyakit yang mengintai tanaman kelapa sawit. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai ialah penyakit patah pangkal pelepah . Penyakit ini mengakibatkan pelepah-pelepah kelapa sawit tiba-tiba menjadi patah. Dampaknya antara lain proses fotosintesis menjadi tidak maksimal, hanya sedikit buah yang dihasilkan, dan kesehatan tanaman menjadi berkurang. Pelepah yang patah tadi umumnya tidak menunjukkan gejala pembusukan di bagian dalamnya. Sayangnya belum diketahui alasan ilmiah yang tepat sebagai penyebab terjadinya penyakit patah pangkal pelepah. Faktor genetis juga tak mempengaruhi timbulnya penyakit ini. Dugaan paling kuat ialah p...

Penyakit Patah Pangkal Pelepah Kelapa Sawit

Penyakit patah pangkal pelepah (frond base fracture) disebut pula sebagai penyakit sengkleh. Penyakit ini biasanya ditemukan di area-area tertentu, kemudian menyebar ke area sekeliling dengan cepat. Tanaman kelapa sawit dikatakan mengidap penyakit patah pangkal pelepah dalam kategori berat apabila jumlah pelepah yang sehat hanya tersisa sekitar 16-20 pelepah dan selebihnya sengkleh. Perlu diketahui, rata-rata tanaman kelapa sawit mempunyai 48 pelepah/pohon. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh penyakit sengkleh ini memang tidak berdampak secara nyata. Kecuali apabila terjadi pembusukan stalk tandan buah pada tanaman tersebut. Pada umumnya penyakit patah pangkal pelepah menyerang tanaman dewasa yang umurnya lebih dari 9 tahun. Gejala awal penyakit ini sulit dikenali sebab antara tanaman yang sehat dan sakit mempunyai kadar hara tanah, kadar hara daun, kadar serat lignin, dan kadar selulosa yang hampir sama. Deskripsi Penyakit Patah Pangkal Pelepah Penyakit PPP (Patah Pangkal...

3 Tips Utama Merawat Tanaman di Musim Kemarau

Sekarang kita yang tinggal di Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Artinya kondisi cuaca saat ini panas dan tidak ada hujan yang turun lagi. Beruntung manusia dan binatang dibekali kemampuan untuk berpindah tempat secara aktif sehingga bisa memilih langsung tempat yang cocok baginya. Tetapi bagi tumbuh-tumbuhan, musim kemarau ibarat mimpi buruk. Mereka terpaksa hidup di tempat yang gersang dan minim air dengan kondisi sekarat. Tentu saja ceritanya akan berbeda manakala tumbuh-tumbuhan tersebut dibudidayakan oleh seorang petani. Kita dibekali otak yang dapat dipakai untuk memikirkan bagaimana caranya membuat tanaman tetap bisa tumbuh dengan baik di tengah-tengah musim kemarau. Kita dapat membantu tanaman tersebut sama sekali tidak terpengaruh dengan kondisi cuaca yang panas dan minim air di dalam tanah. Berikut ini kiat-kiatnya! Kiat 1. Sirami Tanaman secara Rutin Air adalah sumber kehidupan. Sayangnya persediaan air di dalam tanah akan berkurang drastis di musim kemarau ....

Penyakit Pada Bibit Kelapa Sawit dan Pengendaliannya

Bibit kelapa sawit juga bisa terserang oleh penyakit. Baik bibit sawit yang masih berada di tahap pembibitan awal (PA) maupun pembibitan akhir (PU) sama-sama dapat terserang oleh penyakit. Anda harus waspada terhadap kemungkinan serangan penyakit ini. Bibit kelapa sawit yang terserang oleh penyakit akan mengakibatkannya menjadi tidak normal, pertumbuhannya terhambat, kondisinya layu, hingga kematian bibit tersebut. Bahkan penyakit ini juga dapat menular ke bibit-bibit kelapa sawit lainnya. Penyakit Akar (Root Diseases) Penyakit yang menyerang akar bibit kelapa sawit umumnya disebabkan oleh cendawan tular tanah seperti Rhizoctonia, Pythium, dan Fusarium. Penyakit ini biasanya menular melalui spora yang menyebar lewat air hujan dan hembusan angin. Kondisi lahan pembibitan yang terlalu kering atau terlalu banyak genangan air akan memicu penyakit ini. Keadaan lahan yang kurang terawat juga mengakibatkan banyak inogulum patogen yang tumbuh di dalam tanah. Bibit yang terkena penyakit...