Omiyage biasanya dikenal sebagai oleh-oleh kecil khas Jepang. Namun di kalangan TKI dan mahasiswa Indonesia di Jepang, muncul fenomena yang berbeda: omiyage yang ukurannya tidak kecil sama sekali. Bukan sekadar manisan atau gantungan kunci, tetapi barang-barang besar yang memenuhi satu kardus penuh.
Fenomena ini muncul dari cara hidup yang berubah. Banyak yang tinggal jauh dari keluarga untuk waktu lama, sehingga hadiah kecil dianggap tidak cukup mewakili rasa rindu. Mereka memilih mengirim barang rumah tangga, pakaian musim dingin, peralatan elektronik mini, bahkan stok makanan instan Jepang. Omiyage tidak lagi hanya soal “cinderamata”, tetapi menjadi bahasa perhatian yang lebih luas.
Tradisi baru ini mencerminkan pola pikir bahwa barang yang bermanfaat akan lebih dihargai. Seseorang mungkin mengemas satu set panci Jepang untuk ibunya, atau heater portabel untuk keluarga di kampung. Barang-barang itu membawa cerita tersendiri tentang bagaimana seseorang hidup di Jepang dan ingin berbagi kenyamanan kecil itu ke rumah.
Menariknya, omiyage besar ini tidak selalu dikirim untuk keluarga inti. Ada yang mengirim barang dari Jepang ke Indonesia untuk tetangga, teman masa kecil, atau saudara jauh. Benda-benda itu menjadi cara menjaga hubungan sosial meski jarak memisahkan. Kiriman besar kadang membawa pesan sederhana bahwa seseorang belum lupa asalnya.
Fenomena ini juga menunjukkan perubahan nilai. Omiyage tak lagi dinilai dari kemewahannya, tetapi dari fungsi dan ingatan yang dibawanya. Kiriman itu sering dibuat dengan perhitungan matang agar muat dalam satu kotak, sehingga proses mengemasnya pun menjadi ritual tersendiri yang memakan waktu.
Di balik setiap omiyage besar, ada keinginan untuk menghubungkan dua dunia yang jauh. Kiriman itu menjadi jembatan antara kehidupan praktis Jepang dan kehidupan hangat di Indonesia yang selalu dirindukan mereka yang merantau.
.png)
Komentar
Posting Komentar