Sekilas, mengirim makanan ke Jepang terlihat sederhana. Makanan dimasukkan ke dalam kardus, kemudian dikemas agar tidak rusak selama perjalanan.
Masalahnya, makanan tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama.
Kerupuk, sambal, rendang, abon, kue kering, dan makanan beku memiliki karakteristik yang berbeda. Ada yang mudah hancur, ada yang mengandung banyak cairan, ada yang membutuhkan suhu tertentu, dan ada pula yang memiliki bahan tertentu yang perlu diperhatikan ketika masuk ke Jepang.
Karena itu, sebelum mencari tahu cara kirim makanan ke Jepang, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali jenis makanan yang akan dikirim.
1. Makanan kering bukan berarti otomatis aman
Makanan kering memang umumnya lebih mudah ditangani dibandingkan makanan basah. Namun, tetap ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Contohnya:
- kerupuk
- keripik
- abon
- bumbu bubuk
- kue kering
- makanan ringan kemasan
Masalah yang sering muncul justru bukan pada perjalanan, tetapi pada kondisi kemasan.
Kerupuk yang awalnya utuh bisa berubah menjadi remah apabila hanya dimasukkan ke kardus tanpa perlindungan. Kemasan yang mudah sobek juga bisa menyebabkan isi makanan berantakan dan bercampur dengan barang lain.
Jadi, "kering" dan "tahan kirim" bukan dua istilah yang selalu berarti sama.
2. Makanan berminyak perlu perhatian lebih
Makanan seperti abon, sambal goreng kering, serundeng, atau makanan ringan dengan kandungan minyak cukup tinggi memiliki risiko tersendiri.
Minyak bisa merembes apabila wadah atau kemasannya tidak cukup kuat. Jika hal tersebut terjadi selama perjalanan, bukan hanya makanan yang rusak. Barang lain di dalam paket juga bisa terkena minyak.
Karena itu, bagian terpenting bukan sekadar memilih kardus yang bagus, tetapi memastikan makanan memiliki kemasan bagian dalam yang benar-benar mampu menahan isi.
3. Makanan basah jauh lebih rumit
Ini salah satu alasan mengapa pertanyaan "bisa kirim makanan ke Jepang atau tidak?" tidak bisa dijawab hanya berdasarkan nama makanannya.
Rendang, opor, gulai, sambal, atau makanan dengan kuah memiliki karakteristik yang berbeda dengan makanan kering.
Ada kandungan air, minyak, dan bahan makanan yang dapat membuat produk lebih mudah berubah selama perjalanan. Kemasan juga harus mampu menghadapi tekanan, benturan, dan perubahan kondisi selama pengiriman.
Belum lagi persoalan ketentuan pemasukan makanan di negara tujuan.
Jadi, makanan yang biasa aman disimpan di kulkas rumah belum tentu cocok diperlakukan sama seperti makanan kering untuk pengiriman internasional.
4. Makanan rumahan dan makanan pabrikan juga berbeda
Ada perbedaan antara:
"Ini keripik buatan rumah yang dimasukkan ke plastik."
dengan:
"Ini makanan pabrikan dengan kemasan asli dan informasi produk yang lengkap."
Walaupun keduanya sama-sama keripik, kondisi produknya berbeda.
Informasi mengenai komposisi, jenis produk, kemasan, produsen, serta kondisi makanan dapat menjadi hal penting ketika makanan tersebut akan dikirim lintas negara.
Karena itu, jangan hanya menyebut nama makanannya.
Jika ingin mengetahui apakah suatu makanan memungkinkan untuk dikirim, informasi mengenai bentuk dan kemasannya juga perlu diperhatikan.
5. Jangan menganggap makanan yang bisa dibawa ke Jepang pasti bisa dikirim
Ini salah satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi.
Seseorang mungkin pernah membawa makanan tertentu ketika bepergian ke Jepang dan tidak mengalami masalah.
Namun, aturan untuk barang bawaan penumpang dan barang yang dikirim melalui jasa pengiriman tidak selalu dapat disamakan.
Begitu makanan masuk melalui jalur pengiriman internasional, ada proses pemeriksaan dan ketentuan yang berbeda.
Jadi, pengalaman seseorang membawa makanan ke Jepang tidak otomatis menjadi bukti bahwa makanan yang sama pasti dapat dikirim melalui cargo.
6. Cara paling sederhana menilai makanan sebelum dikirim
Sebelum memasukkan makanan ke kardus, coba jawab beberapa pertanyaan sederhana:
Apakah makanan tersebut kering atau basah?
Apakah makanan tersebut mudah basi atau berubah kualitasnya?
Apakah kemasannya benar-benar kedap dan kuat?
Apakah terdapat bahan hewani atau bahan lain yang memiliki ketentuan khusus?
Apakah produk memiliki informasi yang cukup mengenai isi dan komposisinya?
Semakin banyak hal yang perlu diperhatikan, semakin penting melakukan pengecekan sebelum paket dikirim.
7. Jangan hanya memikirkan makanan sampai tujuan
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membahas cara kirim makanan ke Jepang: kondisi makanan selama perjalanan.
Misalnya seseorang mengirim kue yang bentuknya sangat rapuh.
Secara aturan mungkin tidak ada masalah. Tetapi kalau kemasannya tidak mampu melindungi produk, makanan bisa tiba dalam kondisi berbeda dari saat dikirim.
Hal yang sama berlaku untuk makanan yang memiliki kemasan cair, makanan berminyak, maupun produk yang mudah remuk.
Artinya, ada dua pertanyaan berbeda:
Apakah makanan tersebut boleh dikirim?
dan
Apakah makanan tersebut cukup aman untuk dikirim?
Keduanya sama-sama penting.
Kesimpulan
Tidak semua makanan dapat diperlakukan dengan cara yang sama ketika dikirim ke Jepang.
Makanan kering, makanan berminyak, makanan basah, makanan beku, makanan rumahan, dan makanan pabrikan masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda.
Karena itu, sebelum mencari cara kirim makanan ke Jepang, kenali terlebih dahulu makanan yang akan dikirim, periksa komposisi dan kemasannya, lalu pastikan ketentuan pemasukan produk tersebut ke Jepang.
Dengan begitu, keputusan untuk mengirim makanan tidak hanya berdasarkan anggapan "ini kan cuma makanan", tetapi berdasarkan kondisi produk yang sebenarnya.

Komentar
Posting Komentar